Asal Usul Nama
“BUKIT KEMASAN”
-+-+-
Secara etimologi dalam tradisi Jawa, dukuh atau kampung yang dinamakan “Kemasan” merujuk pada tempat tinggal para pande emas (tukang emas) atau pengrajin perhiasan yang melayani kebutuhan bangsawan atau masyarakat sekitar pada masa lampau. Di Desa Lorog, wilayah ini memang dikenal memiliki potensi ekonomi lokal yang kuat.
Legenda “Emas Belanda” yang Terkubur
Menurut penuturan lisan warga setempat, konon para penjajah Belanda yang terdesak saat masa peralihan kekuasaan atau peperangan memilih untuk menyembunyikan kekayaan mereka di dalam tanah. Bukit Kemasan, karena posisinya yang strategis dan cukup tersembunyi, dipercaya sebagai salah satu lokasi penimbunan emas tersebut agar tidak jatuh ke tangan pejuang kemerdekaan atau musuh lainnya.
Meskipun banyak warga yang percaya akan keberadaan “emas terpendam” ini, secara arkeologis, temuan di wilayah Sukoharjo lebih sering berupa benda-benda dari masa Mataram Kuno (seperti yang ditemukan di Joho atau Nguter) daripada emas batangan Belanda. Namun, di Sukoharjo sendiri memang tercatat masih ada sekitar 96% benda kuno yang diperkirakan masih terpendam di area persawahan dan perbukitan.
Asal Nama “Kemasan”
Keyakinan masyarakat akan adanya emas di bukit tersebut juga diperkuat oleh nama “Kemasan” itu sendiri. Dalam tradisi penamaan wilayah di Jawa, nama ini sering kali merujuk pada:
Tempat ditemukannya material berharga (emas).
Pemukiman para pengrajin perhiasan (pande emas) yang kemungkinan besar dulu mengolah hasil temuan atau melayani kebutuhan kaum bangsawan di sekitar wilayah tersebut.
Perburuan Harta Karun.
Kabar mengenai emas di Bukit Kemasan Lorog sering kali mengundang para “pemburu harta karun” dari luar daerah. Sayangnya, kegiatan ini sering kali tidak berizin dan berisiko merusak struktur cagar budaya jika yang ditemukan ternyata adalah artefak sejarah penting.
Kisah ini tetap menjadi bagian dari identitas lokal Desa Lorog, mencerminkan percampuran antara kenangan kolektif masa kolonial dan harapan akan kekayaan alam yang tersimpan di bawah tanah mereka.
Komplek Pondok pesantren Muhammadiyah Tawangsari Bukit Kemasan.
Pesantren ini berada di area Bukit Kemasan yang dikenal memiliki suasana asri, tenang, dan nyaman untuk proses belajar. Secara administratif, lokasinya berada di Desa Lorog, wilayah yang sama dengan legenda “emas terpendam”
Pesantren ini merupakan bagian dari jaringan lembaga pendidikan yang menekankan pada Tahfidzul Qur’an (menghafal Al-Qur’an), penguasaan Bahasa Arab/Inggris, serta integrasi teknologi informasi (IT).
Fasilitas: Sebagai pesantren yang relatif baru berkembang di wilayah tersebut, fasilitas yang tersedia meliputi gedung asrama, masjid, serta sarana pendukung sanitasi yang terus berlanjut.
Pesantren ini memiliki harapan dan cita-cita menjadi lembaga pendidikan yang mampu mencetak dan mempersiapkan generasi emas untuk menuju era keEmasan Islam kembali.
by.KU







